Serangan Mematikan Pasar MEA

KABAROKUTIMUR.COM – Pasca resminya diberlakukan pasar MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) terhitung sejak 1 Januari 2016, terjadi arus bebas antar sesama negara di ASEAN yang meliputi arus bebas barang, jasa, tenaga kerja terampil, modal, dan investasi.

Semua negara yang ikut berpartisipasi dalam hal ini tidak dapat membendung hal ini termasuk Indonesia. Tenaga kerja asing asal China mulai datang dan membanjiri Indonesia. Meskipun China bukan merupakan 10 negara anggota Masyarakat Ekonomi ASEAN, akan tetapi China merupakan negara investor MEA yang banyak membuka industry dan pasarnya di negara-negara  anggota MEA. Terbukanya pasar bebas MEA merupakan kesempatan besar bagi China untuk memasarkan produknya dan tenaga kerjanya.

Selain itu, Indonesia juga harus siap bersaing dengan produk sejenis yang memiliki kualitas yang lebih baik dan harga lebih murah dari negara tetangga seperti Thailand, Vietnam dan Philipina. Produk-produk dari negara tetangga ini memang sudah terkenal dengan harganya yang lebih murah dan kualitas yang tidak kalah dengan produk dalam negeri.

Tenaga kerja asing yang memiliki skill (keterampilan) yang baik juga akan menjadi ancaman untuk para pekerja local. Hal ini akan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) di dalam industry dalam negeri. Perusahaan-perusahaan nasional maupun multinasional akan memperhatikan biaya produksi mereka dengan upah tenaga kerja terampil yang murah dan harga bahan baku yang terjangkau.

Melihat status pertumbuhan ekonomi yang diklaim akan membaik tahun 2016 ini dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan mencapai 6%. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri kemiskinan terus meningkat, harga kebutuhan pokok tetap tinggi, dan daya beli masyarakat menurun. NBC Indonesia (2/11/16) melaporkan bahwa daya beli masyarakat masih rendah.

Hal ini terjadi tidak hanya dipengaruhi tekanan global tetapi juga internal. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi tetap tidak mendorong sektor produktif agar berjalan maksimal. Faktanya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada angka 5,2%.

Hal ini menunjukkan bahwa pasar bebas yang ada saat ini baik di Indonesia khususnya dan global pada umumnya tidak menjanjikan keuntungan untuk pelaku industry. Pada 4 Februari 2016 media massa nasional ramai memberitakan 4 perusahaan multinasional asal Amerika dan Jepang hengkang dari Indonesia atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap pegawainya.

Perusahaan tersebut antara lain PT. Chevron Pasific Indonesia, PT Ford Motor Indonesia, PT Toshiba Indonesia dan PT Panasonic Lighting. Selain itu perusahaan multinasional asal Korea Selatan PT Saimon dan PT Starlink juga melakukan PHK besar-besaran pada karyawannya yaitu sebanyak 1.200 dan 500 karyawan. Ini berarti menambah jumlah pengangguran yang ada.

Pasar bebas dan terbuka MEA yang diberlakukan cepat atau lambat akan mematikan ekonomi dalam negeri Indonesia. Produk barang dan jasa yang tidak mampu bersaing dengan produk sejenis dari negara tetangga perlahan akan tersingkir dan mati. Pasar Indonesia akan dibanjiri barang, jasa, dan tenaga kerja asing yang memiliki kualitas baik, harga terjangkau dan skill terampil dibandingkan produk dalam negeri.

Pada akhirnya, Indonesia hanya akan menjadi penonton dan tidak bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Pasar bebas kapitalis yang ada hanya bisa bertahan bagi siapa saja yang mampu dan berkuasa dalam hal modal, kualitas, dan teknologi. Hal ini akan menambah permasalahan untuk Indonesia dimana kemiskinan dan pengangguran akan terus meningkat.

Pemerintah meskipun telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi ke-10 akan tetapi tetap tidak ada pengaruhnya dibandingkan dengan PHK besar-besaran dan kemiskinan yang teru bertambah selama sistem ekonomi kapitalis terus dipertahankan.

Sumber: voa-islam.com