Dua Bocah SD Diduga Perkosa Balita di Madang Suku I

ilustrasi korban perkosaan

KABAROKUTIMUR.COM | MARTAPURA – Naas dialami oleh R balita berusia 5 tahun yang merupakan warga Desa Harjomulyo, Kecamatan Madang Suku I, Kabupaten OKU Timur yang diduga telah diperkosa oleh dua anak-anak yang masih berstatus sebagai pelajar Sekolah Dasar (SD) kelas 1 dan rekannya yang duduk di bangku kelas 2 SD Negeri II Desa Harjomulyo berinisial M dan J. R yang masih duduk dibangku TK kecil tersebut diduga telah diperkosa dua bocah SD tersebut secara bergiliran.

Pemerkosaan tersebut terjadi di rumah korban R pada Sabtu (21/5/2016) lalu ketika kedua orangtua korban sedang tidak berada di rumah. Namun kasus tersebut tidak mencuat karena diduga dihentikan oleh pihak keluarga pelaku dengan uang damai sebesar beberapa ratus ribu saja.

Informasinya Senin (30/5) orangtua korban mengetahui anaknya telah diperkosa oleh dua bocah SD berinisial J dan M tersebut ketika dirinya pulang usai membantu tetangganya yang akan melaksanakan hajatan. Ketika dirinya tiba dirumah dia menemukan anaknya sedang di geluti oleh dua anak laku-laki. Selain itu, anaknya juga mengaku bahwa kemaluannya mengalami sakit dan mengaku telah digeluti oleh J dan M.

Karena merasa curiga dengan anaknya yang diduga telah diperkosa dua bocah SD tersebut, orangtua korban kemudian langsung melakukan visum. Berdasarkan hasil visum tersebut diketahui adanya benda tumpul yang masuk dalam kemaluan korban tersebut.

Setelah mengetahui hasil visum tersebut, orangtua korban kemudian langsung menemui orangtua kedua pelaku dan memberitahukan adanya kejadian tersebut. Namun sayangnya orangtua kedua pelaku tidak ada yang merespon. Selain melaporkan kejadian tersebut kepada orangtua pelaku yang tidak merespon, keluarga korban juga melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres OKU Timur.

Kepala Puskesmas Kecamatan Madang Suku I dr M Andri Junaini ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa dirinya pernah di telpon oleh salah satu keluarga korban yang menanyakan masalah visum. Namun karena keterbatasan peralatan dan waktu kejadian sudah berlalu selama satu minggu, dr Andri kemudian lebih menyarankan melakukan visum ke dokter spesialis kebidanan atau rumah sakit yang memiliki peralatan yang lebih lengkap.

“Anaknya berumur lima tahun. Karena kita disini peralatannya belum lengkap serta ada prosedur-prosedur dalam melakukan visum itu, jadi saya sarankan ke rumah sakit atau ke dokter spesialis kebidanan yang lebih memahami mengenai hal itu,” katanya.

Berdasarkan informasi salah satu anggota kepolisian yang meminta namanya tidak dituliskan kasus tersebut memang sudah dilaporkan oleh pihak keluarga kepada polisi yang saat ini masih dalam proses.