Ini Rahasia Kesuksesan Presiden Erdogan Hingga Disayangi Rakyat Turki

Foto: Istimewa Rakyat Turki saat berusaha melawan kudeta militer yang menggunakan senjata tempur tanpa memperdulikan keselamatan mereka sendiri.

KABARINTERNASIONAL – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, adalah lelaki sederhana kelahiran sebuah desa kecil di Istanbul pada 26 Februari 1954 silam. Sebelum mendirikan sebuah partai bernama AKP, dia adalah pengikut Partai Refah yang didirikan Necmetin Erbakan. Pada 1994-1998, ia menjadi Wali Kota Istanbul Raya.

Salah satu kebiasaan Erdogan sejak menjadi Wali Kota Istanbul Raya hingga menjadi Perdana Menteri pada Mei 2003 adalah menjaga untuk selalu berbuka puasa selama bulan Ramadhan bersama keluarga fakir miskin dengan ditemani istri tercintanya, Emine. Dia juga berbagi makanan bersama orang miskin dan terlihat akrab dengan mereka.

Erdogan sangat dekat dengan orang di sekitarnya. Mungkin inilah salah satu rahasia mengapa rakyat mencintainya. Sudah lama Turki tidak memiliki seorang yang duduk dalam pemerintahan, yang dicintai oleh rakyatnya.

Erdogan memiliki watak yang antusias dan lembut, secara singkat mungkin kita menyebutnya “Tayyeb”. Supel dalam bergaul merupakan unsur terpenting dalam diri Erdogan. Meski tak dapat dipungkiri bahwa tubuhnya yang ideal, tinggi dan memiliki suara yang keras, memberikan andil yang besar ketertarikan orang kepadanya. Dia tidak hanya handal berbicara tetapi juga seorang pendengar yang baik.

Erdogan sangat menghormati orang yang lebih tua dan orang-orang tertentu. Dia tidak ragu-ragu mencium tangan orang-orang mulia. Erdogan menjadi orang pertama yang memberikan kepercayaan kepada orang cacat saat pemerintah mengabaikan mereka di berbagai bidang. Lukman Ayo, seorang tuna netra pertama yang duduk di parlemen sepanjang sejarah Turki.

Erdogan seorang pemberani. Erdogan berani menolak konspirasi proyek yang terjadi di kotanya dan memberikan kesempatan proyek tersebut kepada orang lain tanpa takut terhadap media. Dia juga tidak ragu-ragu mengeksekusi villa milik mantan Presiden Thurgut Ozal yang tidak sesuai UU.

Erdogan menegakkan dasar-dasar hukum, keadilan dan persamaan. Ini terlihat saat dia memutuskan pelaksanaan hukuman terhadap keponakannya sendiri yang terlibat perdagangan narkoba di Istanbul pada Februari 2010 lalu.

Uniknya, di tengah kesibukannya, Erdogan tidak pernah ketinggalan ikut bertakziyah bagi orang Turki yang keluarganya meninggal dunia, ia bahkan hadir dalam pemakaman. Dia juga selalu menghadiri undangan dari organisasi-organisasi pemuda untuk bergabung dalam permainan sepak bola.

Prestasi Gemilang Erdogan

Saat menjabat Wali Kota, Erdogan sukses menanamkan sosoknya sebagai penolong bagi orang-orang miskin dan yang membutuhkan. Ia memberikan beragam bantuan kepada warganya. Ia juga menunjukkan dirinya sebagai orang yang taat beragama dan menjalankan salat tepat pada waktunya. Dalam pidato dan ceramahnya, ia selalu menyertakan dalil dari Alquran dan hadits. Erdogan juga masih tetap tinggal di rumahnya yang sederhana di Qasim Basya. Ia menolak pindah ke tempat lain yang layak bagi seorang Wali Kota di Istanbul.

Erdogan secara gemilang sukses memimpin kota Istanbul. Ia mengeluarkan Istanbul dari hutang milyaran dolar menjadi keuntungan dan investasi 12 milyar dan pertumbuhan tujuh persen. Semua ini dicapai Erdogan berkat kecerdasan, sentuhan tangan dinginnya dan kedekatannya dengan masyarakat, terlebih kaum buruh, karena Erdogan telah menaikkan upah buruh, serta memberikan perlindungan dalanm bidang kesehatan dan sosial.

Persoalan terbesar yang pernah menimpa kota Istanbul mampu diselesaikan Erdogan, di antaranya persoalan air bersih yang dialirkan ke rumah-rumah, di mana jutaan penduduk tidak memperolehnya selama bertahun-tahun. Sejak 1996, air bersih memancar di rumah-rumah warga yang sudah lama mendambakan adanya mengalirnya air.

Selain itu Erdogan juga sukses mengentaskan kemiskinan, meresmikan situs untuk melayani masyarakat untuk pertama kalinya, memperlihatkan taman-taman umum, melestarikan lingkungan kota di kota yang ditinggali kurang lebih seperlima penduduk Turki. Ia meningkatkan sumbangsihnya terhadap masyarakat yang memujinya dengan apa yang menjadi kecenderungan hatinya.

Apa rahasia kesuksesan Erdogan?. “Orang-orang bertanya kepada saya tentang sebab kesuksesan saya dalam mengentaskan kota dari berbagai persoalannya. Maka saya katakan, kami memiliki senjata yang tidak kalian miliki. Senjata itu adalah keimanan. Kami memiliki akhlak Islam, teladan bagi umat manusia, Rasulullah Saw,” jawab Erdogan.

Jalan Berliku

Sukses Erdogan bukanlah karena rekayasa popularitas atau pencitraan. Kesuksesan dalam berpolitik dan memimpin negara ia rintis dari bawah. Jatuh bangun ia aktif di partai politik, melalui jalan berliku yang penuh rintangan. Pada 1998, pidatonya dalam konferensi umum Partai Refah di Kota Sard, tenggara Anatolia mengantarkannya ke penjara selama empat bulan. Saat itu ia mengutip puisi buatan Ziya Gokalp:

Masjid adalah barak kami
Kubah adalah penutup kepala kami
Menara adalah bayonet kami
Orang-orang beriman adalah tentara kami
Tentara ini yang menjaga kami.

Pengadilan negara di Diyabarkir menghukum Erdogan 10 bulan penjara. Setelah dijalani empat bulan dia dibebaskan. Keluar dari penjara, bersama sahabatnya, Abdullah Gul, Erdogan mendirikan AKP dengan strategi perjuangan yang berbeda dengan Partai Refah. AKP berdiri pada 14 Agustus 2001, jeda beberapa bulan setelah kelompok lain mendirikan Partai Sa’adah.

Erdogan mengajukan diri sebagai calon anggota dewan pada 2002, tetapi ditolak Kejaksaan Agung. Bahkan pada 20 Oktober 2002, Erdogan mundur dari komite pendiri partai untuk memenuhi putusan Mahkamah Konstitusi yang dikeluarkan untuk partai dan Erdogan. Tetapi Erdogan berpendapat tidak ada yang melarang dirinya untuk tetap melanjutkan kepemimpinannya di partai, karena putusan MK hanya berkaitan dengan menjadi anggota komite pendiri partai saja. Hal ini mendorong Jaksa Agung Sabih Guened Augal untuk mengajukan gugatan ke MK pada 23 Oktober 2002 dengan tuntutan pembubaran AKP karena dianggap tidak menjalankan keputusan yang telah ditetapkan.

Pada November 2002, MK mengeluarkan keputusan yang memberi izin Erdogan untuk melanjutkan kepemimpinan AKP dengan jaminan partai harus mengajukan pembelaanya. Dengan demikian Erdogan tidak bisa menjadi anggota dewan. Otomatis ini menghalangi dia menjadi perdana menteri walaupun partai yang dipimpinnya memenangi pemilu. Tetapi kemudian Erdogan dan tim penasehat hukumnya menemukan yurisprudensi, di mana pada 2001, MK juga pernah mengadili kasus serupa. MK waktu itu membebaskan Hassan Jalal Ghozel, mantan Pimpinan Partai an-Nahdhah.

Pada Pemilu 22 Juli 2002, AKP berhasil memperoleh 323 kursi di parlemen. Ini adalah kemenangan besar dan luar biasa. Baru satu tahun berdiri langsung memperoleh kemenangan. Sayang, Erdogan tidak otomatis bisa menjabat perdana menteri akibat kasus hukumnya. Ia pun menugaskan Abdullah Gul, Presiden Turki sekarang yang juga mantan Menlu, untuk memimpin pemerintahan dari 16 November 2002 sampai 14 Maret 2003. Pada saat larangan beraktifitas politik dicabut, Erdogan kemudian meneriman jabatan sebagai perdana menteri.

Kesuksesan AKP merupakan sejarah baru bagi parlemen Turki, di mana belum ada satu partai pun yang pernah berhasil memimpin pemerintahan sejak 1987. Sementara Partai Republik Rakyat, wakil kaum sekuler hanya mendapatkan 179 kursi saja.

Erdogan dengan partai barunya muncul di saat masyarakat Turki berada dalam kondisi putus asa dan keterpurukan politik. Terkhusus lagi setelah skandal yang ditampakkan oleh Dewan Keamanan Turki pada 2001, di mana pemimpin-pemimpin pemerintahan pada masa itu telah melemparkan buku perundang-undangan ke udara yang menyebabkan lenyapnya kepercayaan masyarakat dan seluruh parpol. Pada Pemilu 2007 lalu, AKP sukses merebut 340 kursi parlemen (61%) yang mendudukkan Abdullah Gul pada kursi presiden.

Apa yang membuat kemenangan AKP?. Tidak lain dan tidak bukan, AKP telah membuktikan kesuksesannya selama memimpin. Pemimpin yang bersih, sederhana dan mengakar ke rakyat, pemerintahan yang bersih dan sukses meningkatkan perekonomian ekonomi adalah daya tarik utama warga memilih AKP.

Keteguhannya memegang prinsip Islam juga menjadi daya tarik tersendiri pada AKP. Di tengah sekulerisme Turki yang masih menggurita dan mencengkeram kuat masyarakat, AKP memang tidak secara lantang seperti Partai Refah melakukan perlawanan terhadap sekulerisme dan menggantikannya dengan Islam. Tetapi, perlahan tapi pasti, Islamisasi di Turki dijalankan. Larangan jilbab di lembaga pemerintahan Turki pun dihapuskan. Setidaknya inilah pelajaran dari Erdogan, Sang Muadzin dari Turki dan AKP yang bisa dijadikan sebagai pelajaran.

050228400_1468640257-20160716-kudeta-turki-reuters-4

Sumber: pesantrenpolitik.com