Akhirnya Polisi Tangkap Pemutilasi Mayat di OKU Timur, Pelakunya Warga Martapura

Foto: Istimewa Pelaku Pembunuhan M Pansor disertai Mutilasi yang jasadnya ditemukan di Martapura, OKU Timur
loading...

KABAROKUTIMUR.COM – Kapolda Lampung Brigadir Jenderal Ike Edwin memastikan dua orang yang ditangkap petugas Selasa (26/7/2016) lalu merupakan para tersangka pembunuhan disertai mutilasi anggota DPRD Bandar Lampung bernama M Pansor yang mayatnya di Temukan di Jembatan II Desa Tanjungkemala, Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur beberapa waktu lalu.

Kedua orang yang sudah ditangkap tersebut masing-masing Brigadir Medi Andika, yang merupakan anggota Polresta Bandar Lampung, dan Tarmizi alias Dede, karyawan salah satu warung makan. Informasinya Medi merupakan warga Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur yang bertugas di Polresta Bandar Lampung. Hal itu menjadi salah satu titik terang kenapa mayat M Pansor yang sudah di mutilasi beberapa bagian dibuang di beberapa tempat di wilayah Martapura.

“Ya mereka sudah tersangka. Sudah diperiksa sejak kemarin oleh penyidik. Arloji yang dipakai Tarmizi diduga milik Pansor. Dan itulah yang menjadi salah satu petunjuk dalam pengungkapan kasus ini,” ujar Ike kepada Rabu (27/7/2016).

Menurut Ike, kedua tersangka juga saat ini sudah ditahan. Berdasarkan informasi yang diperoleh, kedua tersangka ditahan di lokasi berbeda. Medi ditahan di rumah tahanan Polda Lampung, sedangkan Tarmizi di ditahan rumah tahanan Polresta Bandar Lampung.

M. Pansor merupakan anggota DPRD Bandar Lampung dari Fraksi PDI Perjuangan. Dia dinyatakan menghilang pada pertengahan April 2016. Mencuatnya kasus mutilasi tersebut berawal dari penemuan mayat tanpa identitas yang berupa kepala dan dua kaki, sedangkan tubuh dan tangan korban ditemukan beberapa hari kemudian dengan kondisi sudah menjadi kerangka beberapa kilometer dari penemuan pertamakali. Penemuan mayat M Pansor pertama kali oleh warga yang akan memancing di lokasi jembatan II Desa Tanjungkemala yang beberapa tahun sebelumnya kerap dijadikan sebagai tempat pembuangan mayat.

Setelah dilakukan serangkaian proses penyelidikan yang cukup panjang, termasuk tes deoxyribonucleic acid (DNA) di Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri, identitas mayat akhirnya teridentifikasi M Pansor. Mengenai motif pembunuhan disertai mutilasi tersebut, Kapolda Lampung belum bersedia mengungkapkan karena menurutnya saat ini masih dalam pendalaman.

Sangkal Terlibat

Sopian Sitepu, pengacara Brigadir Medi, mengatakan kliennya memang mengenal Pansor. “Mereka (MA dengan Sopian) memang berteman baik,” ujar Sopian.

Sopian menuturkan, Medi beberapa kali pernah bertemu Pansor dan pernah berkunjung ke rumahnya. “Mereka juga pernah ada hubungan bisnis,” kata Sopian. Namun Sopian mengaku tidak tahu bisnis apa antara MA dengan Pansor.

Sopian mengklaim kliennya tidak terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut. “Klien saya bilang dia tidak terlibat,” katanya. Ia mengatakan, pihaknya sedang mengumpulkan bukti dan alibi untuk menguatkan keterangan MA bahwa tidak terlibat dalam pembunuhan Pansor.

Sopian juga berharap kepada penyidik untuk menghormati hak kliennya sebagai tersangka. “Saya berharap ketika klien saya diperiksa atau dibawa ke suatu tempat harus didampingi pengacaranya,” ujar Sopian sembari mengucapkan belasungkawa atas kematian Pansor.

Arloji dan bau amis

Sementara itu, informasi yang dihimpun Tribun Lampung, petugas belum mengetahui lokasi pembunuhan Pansor karena Medi tidak mengakui terlibat pembunuhan Pansor. Keterlibatan Medi terungkap dari tersangka lainnya, Tarmizi.

Informasi yang didapat, awalnya Medi diduga menghubungi Tarmizi meminta ditemani pergi. Medi lalu menjemput Tarmizi di tempat kerjanya di Way Halim. Mereka pergi mengendarai mobil Toyota Kijang Innova yang diduga milik Pansor.

Pada saat masuk ke mobil, Tarmizi mencium bau amis. Tarmizi menanyakan bau amis itu ke Medi. Agar tidak ada bau menyengat, Medi menyemprot pengharum udara di mobil. Medi membawa Tarmizi ke rumahnya.

Medi sempat mandi di rumahnya. Medi kemudian membawa Tarmizi pergi ke Martapura. Sampai disana, Medi membuang kardus. Awalnya Tarmizi tidak tahu isi kardus tersebut. Belakangan Medi memberitahu kardus berisi mayat.

Setelah itu, Medi diduga memberikan jam tangan ke Tarmizi. Jam tangan itu diduga milik Pansor. Penyelidikan polisi mengarah kepada keterlibatan Tarmizi. Polisi menangkap Tarmizi di depan Polsek Natar, Lampung Selatan, Senin (25/7/2016) malam.

Tarmizi mengakui ikut membuang mayat Pansor bersama Medi. Dari situlah, petugas menangkap Medi di rumahnya. Di rumah Medi, polisi menemukan cincin yang diduga milik Pansor. Polisi belum menemukan mobil Pansor yang diduga sudah dijual ke Jakarta.

Kemarin Tribun Lampung melakukan penelusuran di salah satu warung makan di bilangan Jalan Sultan Agung yang diindikasi menjadi tempat Tarmizi bekerja. Namun di warung yang didatangi tidak ada yang mengetahui dan mengenal siapa Tarmizi.

“Kami tidak tahu gak kenal sama Tarmizi atau Dede, pekerja kami ya yang ada di sini,” ujar salah satu pekerja di warung makan di Jalan Sultan Agung, saat ditemui Tribun.

Siapakah Brigadir Medi?

Menurut penelusuran Tribun di internal kepolisian, Brigadir Medi Andika merupakan anggota polisi yang pernah jadi ajudan Kapolresta Bandar Lampung saat dijabat Kombes Dwi Irianto, beberapa tahun lalu.

Dalam pergaulannya, Medi dikenal sebagai sosok yang ramah kepada awak media saat menjadi ajudan Dwi.

Setelah menjalani tugas sebagai ajudan, Medi kemudian dipindahtugaskan ke Satuan Intelijen dan Keamanan Polresta Bandar Lampung.

Dari bagian intel, Medi lantas dipindah ke bagian Provost. Pemindahan Medi ke Provost terjadi beberapa bulan sebelum ditangkap polisi.

Sumber: Tribun Lampung