Honorer Pol PP OKUT ini Nyambi Menjadi Grandong

KABAROKUTIMUR.COM, SUMSEL – Dengan alasan gaji sebagai pegawai honorer di Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) OKU Timur sebesar Rp. 1,1 Juta tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Dwi Nurul Iman (29) warga Desa Jaya Mulya RT 04 RW 02, Kecamatan Semendawai, Suku III OKU Timur nekad menjadi salah satu komplotan grandong (Begal,red) yang kerap beraksi diberbagai lokasi bersama sejumlah rekannya.

Dwi ditangkap unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Direktorat Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumatera Selatan bersama rekannya Nurohim (24) warga yang sama Senin (12/9/2016) sebelum Salat Ied.

Polisi terpaksa menembak kedua tersangka karena berusaha melarikan diri ketika akan ditangkap. Dari tangan kedua tersangka polisi berhasil mengamankan barang bukti (BB) berupa sepeda motor Yamaha V-ixion berwarna merah, dua bilah senjata tajam jenis pisau dan senpi yang digunakan tersangka untuk beraksi.

Tidak tanggung-tanggung berdasarkan hasil penyelidikan polisi Honorer Pol PP tersebut sudah melancarkan aksinya sebanyak tujuh kali. Namun berdasarkan pengakuan pelaku, dirinya baru melakukan pembegalan sebanyak dua kali disebabkan karena kebutuhan keluarga.

Perampokan terakhir dilakukan honorer Pol PP tersebut di Desa Jayamulya, Kecamatan Semendawai Suku III pada 27 April 2016 lalu sekitar pukul 16.00. terhadap korbannya bernama Triyandi. Nurohim melancarkan aksinya ketika korbannya melintas di jalan desa tersebut yang langsung dipepetnya sembari meminta sepeda motor korban jenis Honda Beat warna hitam dengan plat nomor BG 4653 YAE yang diberikan korbannya karena ketakutan.

Menurut Direktur Kriminal Umum Polda Sumsel, Kombes Pol Daniel MonangTahi Silitonga menjelaskan, dari catatan pihaknya pelaku ini telah tujuh kali berkasi ditempat yang berbeda-beda.

“Masih kita kembangkan, karena dugaannya masih ada TKP lain,” kata Daniel saat gelar perkara, Selasa (13/9/2016).

Daniel melanjutkan, saat ini pihaknya sedang memburu pelaku lain yang terlibat dalam jaringan begal tersebut. Bahkan kata dia, kuat dugaan Honorer Sat Pol PP dan rekannya tersebut masih memiliki berhubungan dengan pelaku begal yang tewas beberapa waktu lalu.

“Mereka ini masih satu jaringan, karena juga pernah berpindah-pindah saat beraksi,” jelasnya.

Sedangkan pelaku Dwi, honorer Sat Pol PP OKU Timur mengaku, dirinya baru dua kali beraksi melakukan pembegalan.

Gajinya sebagai honorer sebesae Rp1,1 Juta tak mencukupi kehidupan keluarganya.

“Baru dua kali, untuk kebutuhan keluarga gaji honorer kecil,” katanya.

Atas perbuatannya, kedua tersangka diancam dengan pasal 363 dan 365 KUHP ancaman hukuman 5 tahun penjara.