Kasus Pengadaan Lahan Kuburan, Wabub OKU Jadi Tersangka

Wakil Bupati OKU Djohan Anwar

KABAROKUTIMUR.COM – BATURAJA – Setelah menjalani pemeriksaan berkali-kali dan termasuk pemanggilan terhadap 40 orang lebih saksi, akhirnya status Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Johan Anwar ditingkatkan statusnya sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi lahan kuburan. Demikian diungkapkan Kapolda Sumsel, Irjen Pol Djoko Prastowo.

Peningkatan status tersangka tersebut dilakukan berdasarkan hasil gelar perkara yang dilakukan penyidik di Mabes Polri beberapa waktu lalu. Dari hasil gelar perkara tersebut, terungkap unsur-unsur pidana yang dilakukan tersangka sudah lengkap dan terpenuhi sehingga penetapan tersangka dilakukan.

“Statusnya, sudah kita tetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi lahan kuburan di OKU,” ungkapnya, Jumat (9/9/2016) lalu.

Mengenai sejumlah Barang Bukti (BB) yang telah disita untuk memenuhi peningkatan status Johan Anwar, Djoko enggan menyebutkan. Hanya saja, ia mengatakan Johan akan kembali dipanggil untuk pemeriksaan lanjutan.

“Johan Anwar kembali diperiksa dengan status barunya setelah perayaan Idul Adha,” terangnya.

Kasus dugaan tindak pidana korupsi anggaran penyediaan 10 Hektare (Ha) lahan kuburan di OKU tahun 2012 senilai Rp 6,1 Miliar terungkap pada tahun 2014 lalu. Johan sudah dipanggil empat kali tetapi ketika masih menjabat sebagai Ketua DPRD OKU.

Johan diduga ikut menikmati hasil pembelian lahan kuburan tersebut. Penyidik Tipikor Ditreskrimsus Polda Sumsel telah menetapkan empat tersangka lainnya dalam kasus tersebut masing-masing Hidirman (pemilik lahan), Najamudin (Kepala Dinas Sosial OKU), Ahmad Junaidi (mantan Asisten I OKU), dan Umirtom (eks Sekda OKU).

Dalam persidangan di PN Tipikor Palembang, Hidirman divonis telah melakukan pencucian uang dengan pidana tujuh tahun penjara, dan diwajibkan membayar denda senilai Rp. 200 Juta, serta harus membayar uang pengganti senilai Rp. 1,5 Miliar.

Apabila tidak bisa membayar, harta benda terdakwa akan disita. Vonis tersebut sesuai dengan Pasal 3 Undang-undang Nomor 8 tahun 2010 tentang pidana pencucian uang.

Sementara Najamuddin, Ahmad Junaidi, dan Umirtom divonis penjara empat tahun plus denda dan subsider yang sama seperti yang diterima Hidirman. Ketiganya dikenakan Pasal 2 UU Nomor 20 tahun 2001 tentang tipikor.

sumber: sripoku.com