Berang… Sambil Menenteng Palu, Kholid Periksa Bangunan Proyek RSUD OKUT yang Amburadul

Foto: Istimewa/teks foto: Bupati OKU Timur saat melakukan pemeriksaan terhadap bangunan RSUD Martapura yang amburadul.

KABAROKUTIMUR.COM, ┬áMARTAPURA – Dengan membawa palu, Bupati OKU Timur berkeliling ke sejumlah ruangan dan bangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) OKU Timur yang sedang dalam tahap pembangunan.

Sejumlah ruangan yang sedang dalam tahap pembangunan terlihat tidak ada yang lurus.

Hal itu tentu saja membuat Kholid mengernyitkan kening.

Belum selesai di situ, dengan palu yang ada di tangannya, Kholid kemudian memukul keramik yang ada dan ketika mendengar suara keramik yang hampa dia langsung melihat kepada salah satu pekerja dan meminta pendapat apakah pemasangan keramik seperti itu sudah benar atau tidak.

“Coba dengarkan, ini tidak berisi semen suaranya menggema, berbeda dengan yang lain. Kira-kira benar seperti ini pemasangannya,” kata Kholid kepada seseorang yang mengaku bagian logistik dalam proyek pembangunan RSUD tersebut sambil memukul keramik yang sudah dipasang.

Belum sampai di situ, Kholid kemudian berjalan ke sejumlah ruangan dan melihat seluruh ruangan yang tidak lurus.

Karena seluruh pekerja yang ada di ruangan mengaku tidak mengetahui siapa yang menjadi pemborong Kholid kemudian memanggil Kepala RSUD dan Kepala Dinas Kesehatan, namun dr Sylvi hanya terlihat kebingungan ketika menjawab pertanyaan mengenai siapa yang mengerjakan proyek tersebut.

“Coba lihat bangunan di luar, dipukul sedikit langsung jebol. Ini bagaimana cara membangunnya. Adukannya berapa ini. Katakan sama pemborongnya agar diperbaiki,” katanya kepada dr Sylvi.

Dikonfirmasi Selasa (27/12/2016) mengenai bangunan gedung RSUD tersebut Kholid mengaku sudah mengultimatum kepala RSUD agar memerintahkan pemborong melakukan perbaikan kembali sebelum pemerintah daerah menerima pekerjaan tersebut.

Bahkan dia mengatakan pemda tidak akan membayar pengerjaannya jika tidak diperbaiki.

“Kalau kita terima pengerjaannya, maka sama dengan kita membenarkan pekerjaan yang salah. Kita yang salah bukan pemborong kalau pengerjaan ini kita bayar. Lebih bai tidak kita bayar dan nanti pemborong mengajukan persidangan ke PN. Kita bisa membayar setengah jadi pemda bisa untung. Daripada kita harus mengakui pekerjaan yang tidak sesuai seperti ini,” katanya.

Sumber: Sriwjaya Post