Komoditi Karet Terencam Ditinggalkan

Sadap karet

KABAROKUTIMUR.COM | MARTAPURA – Terhitung sejak dua pekan terakhir sebagian besar petani karet di Kabupaten OKU Timur kembali mengeluhkan harga jual getah karet bulanan yang mengalami penurunan secara drastis. Diketahui jika sebelumnya harga jual getah karet bulanan di wilayah Batumarta mencapai Rp. 13 ribu perkilo kini turun menjadi sekarang Rp. 7000 perkilonya. Tentu kondisi seperti ini dinilai sangat merugikan para petani, mengingat biaya operasional yang sebelumnya dikeluarkan tidak sesuai dengan pendapatan.

Seperti halnya yang dikatakan Arif Rahmat, seorang petani karet asal Batumarta, Kecamatan Madang Suku III, Kabupaten OKU Timur, Selasa (25/4/2017) mengungkapkan, satu bulan sebelumnya harga jual getah karet bulanan sempat stabil dengan kisaran harga Rp. 13 ribu perkilonya. Terhitung dua minggu terakhir, kata Arif, harga jual getah karet bulanan dalam dua minggu terakhir kembali anjlok dan kondisi tersebut tentunya sangat merugikan para petani.

“Turunya harga karet ini tentu kami sebagai petani harus menanggung kerugian mas, karena biaya untuk perawatan pohon karet itu sendiri butuh biaya yang cukup besar. Kalau harga karet turun lagi seperti sekarang, pastinya pengeluaran kami lebih besar dari penghasilan mas,” ungkapnya.

Menurutnya, lanjut Arif, salah satu faktor yang menjadi penyebab anjloknya harga karet yakni harga jual minyak dan karet diskala pasar dunia juga mengalami penurunan. Pihaknya menyayangkan, ditengah kondisi anjloknya harga jual karet seperti saat ini hasil produksi getah karet di wilayah Batumarta tidak mengalami penurunan bahkan dalam satu bulan para petani dapat mengepulkan ribuan getah karet.

“Kalau hasil produksi getah sejauh ini tidak mengalami penurunan, dalam satu bulan kita bisa kumpulkan ribuan ton getah. Tapi sayangnya kondisi itu tidak sesuai dengan harga jual yang kembali anjlok,” lanjutnya.

Sedangkan menurut pengepul karet di Desa Margotani Kecamatan Madang Suku II, Untung Harmano mengatakan harga karet ditingkat petani sebelumnya mencapai  Rp. 15 ribu per kilogram dan sempat  turun menjadi  Rp. 13 Ribu per kilogram dan saat ini kembali turun menjadi Rp. 9200 per kilogram untuk karet bulanan.

Turunnya harga karet selama dua minggu terakhir, menurutnya salah satu pemicu turunnya harga karet yakni karena ikut berangsur naiknya ongkos angkut karet akibat rusaknya ruas jalan provinsi dan terputusnya jembatan Desa Gunung Batu belum lama ini. Sehingga perjalanan harus memutar arah dengan melintas ruas jalan Baturaja OKU ataupun melalui Lempuing OKI.

“Turunnya harga karet dampak dari ikut merosotnya harga pasar dunia, belum lagi ditambah kondisi jalan yang rusak sehingga membuat biaya angkutan menjadi lebih tinggi,” terangnya.

Dia juga mengatakan sekarang harga karet turun drastis, kondisi ini tentunya membuat para petani tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya berharap harga komoditi ini membaik lagi. Produksi karet di Desa Margotani perbulannya mencapai  300 ton.

“Untuk produksi kita tidak ada masalah bahkan terus membaik tapi harga yang menjadi masalah,” imbuhnya.