Peran Keluarga Dalam Pendidikan Puasa Untuk Anak

Ilustrasi anak menunggu berbuka puasa
loading...

KABAROKUTIMUR.COMBulan Ramadhan sebagai bulan penyucian diri dan pembelajaran. Setiap Muslim wajib menjalankan puasa, entah lelaki, perempuan, anak-anak maupun dewasa. Anak-anak harus memiliki perhatian khusus selama Ramadhan, seperti di sekolah mereka diajarkan dan diikutkan pesantren kilat. Namun, sering kali setelah di rumah mereka tidak dipantau oleh orang tuanya, inilah problem yang sering terjadi dalam kehidupan keluarga di bulan Ramadhan.

Orang tua tidak jarang mengabaikan bimbingan terhadap anak saat Ramadhan, misalnya anak yang sudah berumur 7 tahun tidak diwajibkan untuk beribadah dan puasa. Padahal, anak harus di kenalkan pada agama sedini mungkin.

Peran pendidikan untuk penempaan agama yang baik harus mulai dari keluarga. Dalam pandangan Islam keluarga itu bukan saja hidup berkelompok pada satu atap rumah, namun lebih pada ikatan hubungan darah atau pernikahan, yang terletak pada rasa saling harap (mutual expectation) antara para anggota keluarga. Keluarga pada tingkatan pertama boleh dikatakan terdiri dari ia (seorang laki-laki) sendiri, kemudian istri, hubungan keluarga keatas (bapak, nenek, dan seterusnya) atau kebawah (anak, cucu, dan seterusnya) dan juga ada anggota keluarga yang dari sisi samping, seperti keluarga dari keturunan ayah, saudara (kesamping) atau saudara dari lain silsilah.

Kembali pada pendekatan Islam terhadap anak-anak, secara umum bisa disarikan dalam beberapa prinsip. Pertama, sesuai dalam perintah Allah, janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya (albaqarah:233). Ayat tersebut sangat kental dengan pentingnya berlaku ikhlas dalam mengurus anak, dan kemulian orang tua terletak pada keberhasilan mendidik anaknya,.

Pada bulan puasa, kadang anak tidak disuruh puasa karena takut sakit, dan orang tua di kota-kota besar yang menyerahkan hak asuh pada lembaga pendidikan ataupun penitipan kadang lupa posisi dirinya sebagai orang tua. Pengabaikan itu lah yang membawa dampak buruk pada perkembangan anak.

Seharusnya, anak tetap dipantau dan disuruh menjalankan puasa. Ada beberapa kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua terdahulu terhadap anak-anaknya, seperti anak yang belum berumur 7 tahun di suruh berpuasa setengah hari saja, tentu telah diawali dengan melatih puasa diusia dini, tidak membatasi anak untuk tidur siang atau pun sore di waktu weekend, dan saat sekolah anak diberikan keleluasan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sejenis imtak di sekolah.

Semua kegiatan yang dilakukan oleh si anak harus terpantau. Jangan sampai anak berbohong, apalagi anak sekarang di usia yang masih kecil sudah diberikan smartphone. Orang tua harus menanamkan sifat jujur pada si anak dan harus berani mengatakan ke anaknya bahwa berbohong dan berkata kotor, walaupun lewat media sosial, haram hukumnya. Hal itu sesuai dengan larangan Nabi dalam hadits “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perilaku kotor, maka tidak ada kepentingan bagi Allah atas amalannya meninggalkan makanan dan minuman”(HR.Bukhari).

Bimbingan semacam itu harus terus dipupuk dalam bulan Ramadhan, sehingga setelah puasa berakhir anak telah terbentuk karakter yang baik, dan orang tua tinggal melanjutkan kebiasaan yang dilakukan saat Ramadhan. Dalam lingkungan pergaulannya pun perlu di perhatikan, pengawasan anak saat puasa bisa dilakukan oleh keluarga yang lebih besar seperti pada definisi keluarga dalam Islam di atas.

Sumber:Republika.co.id

Penulis: Asrul Raman, Dosen STKIP Taman Siswa Bima