Waspada Penyakit Kaki Gajah… ini Bahaya dan Ciri-ciri Penderita yang Harus Diketahui

Ilustrasi Penyakit Kaki Gajah
loading...

KABAROKUTIMUR.COM | OKUTIMUR – warga yang mengalami penyakit Kaki Gajah (Filariasis) yang ditularkan oleh nyamuk yang sebelumnya pernah menggigit penderita lainnya dapat menyebabkan cacat pada kaki seumur hidup. Demikian diungkapkan Kepala bidang pencegahan dan pemberantasan penyakit Umaidah Kosim.

Menurut Umaidah untuk mengatasi penyebaran penyakit kaki gajah, Bupati OKU Timur memerintahkan dinas kesehatan untuk terus mensosialisasikan bahaya penyakit tersebut serta memberikan upacaya pencegahan dengan memberikan obat penyakit kaki gajah secara Cuma-Cuma.

Selain itu, pihaknya juga telah memberikan penyuluhan kepada seluruh petugas puskesmas dan perangkat desa agar mensosialisasikan bahaya penyakit kaki gajah tersebut serta upaya yang harus dilakukan untuk menghindari virus menular yang disebabkan oleh gigitan nyamuk tersebut.

“salah satu cara untuk menghindari penyakit kaki gajah tersebut menyebar adalah dengan peduli lingkungan bersih sehingga terhindari dari sarang nyamuk yang kemungkinan membawa virus kaki gajah yang sebelumnya sempat menggigit penderita kaki gajah lainnya,” kata Umi.

Menurut Umi, kasus penderita penyakit kaki gajah di Kabupaten OKU Timur terbanyak di wilayah kecamatan madang suku III dengan jumlah kasus sebanyak sembilan kasus disusul dengan sejumah kecamatan lainnya yang tersebar di OKU Timur dengan jumlah kasus sebanyak 10 kasus.

“Sejauh ini baru satu orang yang berhasil sembuh dari penyakit kaki gajah tersebut. Sementara sisanya hingga saat ini masih harus melakukan pengobatan dan pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.

Umi melanjutkan, sebagian besar penderita penyakit kaki gajah berada di wilayah perkebunan karet yang diduga merupakan daerah sangat cepat dalam perkembangan nyamuk karena banyaknya genangan genangan air yang ada di perkebunan tersebut.

Berikut Gejala Dan Bahaya Penyakit Kaki Gajah

filaria yang disebabkan oleh cacing khusus cukup banyak ditemui di negeri ini dan cacing yang paling ganas ialah Wuchereria bancrofti, Brugia, malayi, Brugia timori, Penelitian di Indonesia menemukan bahwa cacing jenis Brugia dan Wuchereria merupakan jenis terbanyak yang ditemukan di Indonesia, sementara cacing jenis Brugia timori hanya didapatkan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di pulau Timor.

Di dunia, penyakit ini diperkirakan mengenai sekitar 115 juta manusia, terutama di Asia Pasifik, Afrika, Amerika Selatan dan kepulauan Karibia. Penularan cacing Filaria terjadi melalui nyamuk dengan periodisitas subperiodik (kapan saja terdapat di darah tepi) ditemukan di Indonesia sebagian besar lainnya memiliki periodisitas nokturnal dengan nyamuk Culex, nyamuk Aedes Aegypthy dan pada jenis nyamuk Anopheles. Nyamuk Culex juga biasanya ditemukan di daerah-daerah urban, sedangkan Nyamuk Aedes dan Anopheles dapat ditemukan di daerah-daerah rural.

Perjalanan penyakit ini dimulai dengan digigitnya penderita Kaki Gajah yang memepunyai larva Filaria type apa saja. Dalam perkembangan dari larva muda Filaria yang dihisap oleh nyamuk hingga menjadi larva filarial infektif di dalam tubuh nyamuk berlangsung selama 1 hingga 2 minggu, Perkembangan mulai masuknya larva dari nyamuk ke tubuh manusia hingga menjadi cacing dewasa berlangsung selama 3 hingga 36 bulan. Tentunya dibutuhkan ratusan hingga ribuan gigitan nyamuk pada calon penderita Filaria hingga bisa menyebabkan penyakit filarial, disamping menurunnya kondisi calon penderita karena penyakit lain, terlalu letih atau kurang gizi.

Di sisi lain, bila badan penderita kuat dan telah berulang kali digigit nyamuk pemnawa larva filarian, dapat menyebabkan timbulnya kekebalan yang cenderung meningkat, namun berpotensi membawa larva filaruasis.

Cacing Filaria dewasa akan melalui saluran kelenjar getah bening atau muara muara kelenjar getah bening sehingga menyebabkan pelebaran dan kerusakan kelenjar getah bening yang dilaluinya. Pelebaran kelenjar getah bening menyebabkan banyaknya keluarnya cairan plasma dari pembuluh darah ke jaringan otot dan kulit serta merusaknya, disekitar kelenjar getah bening yang rusak dan menyebabkan penebalan pada pembuluh darah di sekitar kelenjar getah bening yang rusak.

Selain itu, kelenjar getah bening yang rusak akan berkelok kelok dan menjadi bengkak. Hampir semua pendrita Filaria tidak terdeteksi oleh mata kecuali bila telah terjadi komplikasi pada payu dara, buah zakar atau pada kaki. Namun bila ada satu penderita Filaria yang menderita komplikasi, berarti telah terjadi penyebaran Filaria pada masyarakat ditempat tersebut. Untuk mendeteksi secara awal dan mudah dilakukan pemeriksaan darah tepi berkala dari telunjuk tangan masyarakat didaerah tersebut, sesuai dengan jenis Filaria yang diduga berkembang ditempat tersebut.

Jadi, pengambilannya dapat dilakukan siang dan malam hari. Dapat pula melalui pemeriksaan mahal seperti ELISA dan berbagai test lainnya. Tanda tanda awal sangat bervariasi, dapat berupa kencing yang berdarah dan terdapat protein pada air seninya atau kencing bernanah pada pagi hari. Dapat pula ditandai dengan demam tinggi, peradangan kelenjar getah bening serta pembengkakan yang bersifat lokal, dan peradangan pembuluh darah balik.

Pada pria, dapat terjadi peradangan pada daerah buah zakar bila penyebabnya Filaria Wuchereria .bancrofti, Gejala awal dapat pula berupa gejala berupa demam tinggi, menggigil, nyeri otot serta sakit kepala.. Hingga sekarang pencegahan Filaria utama sesuai dengan rekomendasi WHO, pada masyarakat adalah dengan pemakaian obat golongan Diethilcarbamazyne (DEC) dan golongan Albendazole secara masal, walaupun sering didapatkan komplikasi dari obat obatan tersebut.

Pada kasus Filaria yang masih ringan dan terinfeksi sebaiknya diberikan antibiotik seperti golongan doxycyccline, sertau bagi pencegahan dan obat penghilang rasa sakit dan demam, seperti paracetamol Obat obatan pentakit Filaria tidak boleh diberikan pada orang dewasa diatas usia 60 tahun , penderita Kencing Manis, penderita Jantung atau penderita Asma Bronchiale kronis. Efek samping dari obat anti Filaria adalah demam, menggigil, nyeri sendi , sakit kepala, mual, hingga muntah. Keberhasilan pengobatan ini sangat tergantung dari jumlah parasit yang beredar di dalam darah serta sering menimbulkan gejala hipersensitivitas akibat antigen yang dilepaskan dari sisa sisa sel-sel cacing yang sudah mati.

Reaksi hipersensitivitas juga bisa terjadi akibat radang dari lipoprotein lipolisakarida dari organisme intraseluler Filaria. Kalaupun ada kematian, hal tersebut akibat dari penyakit lain atau hipersensivitas terhadap obat penyerta seperti paracetamol dan sebagainya. Yang paling penting selain pengobatan klinik filariasis ialah pendidikan dan promosi pada masyarakat sekitar untuk memberantas sarang nyamuk dengan gerakan 3M, sama seperti pemberantasan demam berdarah (DBD).

(Berbagai Sumber)