Baru Paham Satu Kitab, Putuskan Untuk Jihad, ini Pesan Bupati OKU Timur

Bupati OKU Timur, Kapolres, Kajari serta unsur muspida saat menandatangani kesepahaman melawan organisasi radikal dan anti pancasila

KABAROKUTIMUR.COM | OKUTIMUR – Tindakan radikalisme dan terorisme yang kerap mengatasnamakan agama dan jihad dinilai oleh Bupati OKU Timur HM Kholid MD sebagai tindakan yang melanggar aturan agama dan negara. Menurutnya prilaku tersebut disebabkan oleh pribadi yang tidak memahami pembelajaran tentang agama secara utuh dan tidak mempelajari pembanding-pembanding dari paham tersebut.

Bupati OKU Timur HM Kholid MD usai melakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama Menolak Paham Radikalisme Terorisme dan Anti Pancasila di aula polres OKU Timur Senin (18/9/2017) mengatakan, sasaran dari tindakan radikalisme adalah generasi muda yang tidak memiliki pemahaman dan pembanding dalam ilmu agama.

“Banyak contoh pemuda meninggalkan negaranya untuk bergabung dengan paham radikalisme. Mereka beralasan membela paham yang mereka yakini benar menurut mereka namun belum tentu benar menurut orang lain, ajaran agama, dan negara. Penyebabnya hanya satu, karena mereka belajar agama kurang lengkap dan tidak mempelajari kitab-kitab lain sebagai pembanding,” kata Kholid.

Menurut Kholid, munculnya paham-paham radikal disebabkan oleh pembelajaran yang tidak tuntas yang hanya membaca satu kitab dan tafsir tanpa mempelajari pembanding-pembanding dari kitab-kitab lainnya.

“Untuk itu pemerintah melalui kesbangpol akan memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya paham radikalisme dan terorisme tersebut. Masyarakat harus diingatkan bagaimana sulitnya mempersatukan bangsa dan pancasila bukanlah kesepakatan sepihak namun juga atas dasar istighrah para ulama,” katanya.

Sedangkan Kapolres OKU Timur AKBP Irsan Sinuhaji menegaskan untuk mengantisipasi munculnya paham-paham radikalisme dan terorisme, pihaknya telah memerintahkan kepada seluruh kapolsek dan bhabinkamtimbas untuk mensosialisasikan bagaimana pancasila dan bahayanya paham radikal terhadpa bangsa Indonesia.

“Sosialisasi tidak hanya dengan cara mengumpulkan masyarakat. Namun bisa dengan cara berkunjung dan menyampaikannya kepada masing-masing masyarakat,” katanya.

Menurut Kapolres, Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari satu kelompok Agama, Ras, dan suku. Namun kemerdekaan dihasilkan dengan cara bersama. Jadi kita harus bersama-sama menjaganya.

“Hari ini disepakati bersama dan kita menjadi orang terdepan yang menolak adanya paham radikal dan anti pancasila. Berikan pemahaman kepada masyarakat secara terus menerus dengan cara dan metode masing-masing,” katanya.