HM Kholid MD

KABAROKUTIMUR.COMLika-liku kehidupan yang dijalani HM Kholid MD Ssos Msi yang saat ini menjabat sebagai Bupati OKU Timur mungkin tidak berbeda dengan kehidupan masyarakat biasa yang bekerja keras banting tulang hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu orangtua untuk menyelesaikan pendidikan adik-adiknya.

Diwawancarai saat waktu luang, HM Kholid MD menceritakan dengan gamblang bagaimana perjalanan hidupnya sejak menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Departemen Dalam Negeri (Depdagri) pada tahun 1982 dan ditempatkan di kantor PMD wilayah Baturaja OKU, (belum ada pemekaran OKU Timur).

Selain menjadi pegawai di kantor PMD Baturaja, Kholid juga mulai membantu pergerakan partai Golongan Karya (Golkar) yang pada saat itu seluruh pegawai memiliki keharusan untuk menjadi anggota Partai. Meski tidak ada jabatan, namun Kholid tetap membantu laju perkembangan partai Golkar dengan bimbingan dari Komarudin Muid. Bahkan Kholid mengaku sempat menjadi anggota DPRD Kabupaten OKU priode tahun 1997-1999.

Setelah orde baru, Kholid kemudian melanjutkan kembali karir PNS-nya dengan menjadi Kasi PUGR PMD Kabupaten OKU yang dilanjutkan dengan terpilihnya menjadi camat di Kecamatan Madang Suku I Kabupaten OKU hingga kemudian OKU Timur memekarkan diri.

Kiprahnya sebagai kyai yang kerap menjadi penceramah dan memberikan wejangan kepada masyarakat tentu saja menjadi nilai tambah sehingga membuatnya dipinang menjadi wakil bupati oleh beberapa kandidat yang akan maju pada pilkada langsung setelah pemekaran OKU Timur pada tahun 2005.

Setelah melakukan rapat keluarga yang sangat panjang, Kholid kemudian memutuskan untuk menjadi wakil H Herman Deru kendati seluruh calon sudah meminang dan memintanya untuk berpasangan. Namun Kholid tetap memutuskan untuk menjadi wakil Herman Deru untuk maju sebagai wakil bupati priode 2005-2010.

Setelah priode pertama menjabat sebagai wakil Bupati, pada priode kedua H Herman Deru kemudian kembali maju sebagai Bupati dan kembali berpasangan dengan HM Kholid MD. Keberhasilan dan sejumlah program yang Deru-Kholid terapkan pada priode pertama tentu saja membuat pasangan ini diatas angin dan tidak tersaingi dalam pilkada priode 2010-2015 tersebut.

Pada tahun 2015, setelah priode kedua pasangan Deru-Kholid berakhir. Dengan berbagai pertimbangan dan melihat kondisi masyarakat, Kholid kemudian memutuskan untuk maju sebagai bupati berpasangan dengan Fery Antoni yang sebelumnya merupakan anggota DPRD OKU Timur.

Dengan kiprahnya membangun OKU Timur bersama Herman Deru, dua priode, tentu saja membuat Kholid yang berpasangan dengan Fery Antoni unggul dalam pilkada 2015 dan berhasil memenangkan pilkada tersebut.

Menumpang Tinggal

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai perjuangannya selama bertugas di OKU Timur Kholid menceritakan bagaimana dirinya harus menumpang selama tiga tahun ketika pertamakali bertugas di Baturaja OKU pada tahun 1982 sebelum pemekaran OKU Timur.

Selain menjadi pegawai, Kholid juga melakukan pekerjaan sampingan sepulang bekerja dengan menjadi tukang kayu bersama mentornya pak Tumi untuk menunjang kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan adik-adiknya melanjutkan pendidikan.

“Dahulu saya bersama pak tumi terkenal sebagai tukang pembuat rumah. Kami laris dipanggil ke berbagai tempat di Baturaja untuk bertukang. Hasil tukang saya bagus jadi orang senang,” Kholid bercerita.

Selain bertukang kata Kholid dirinya juga sempat menjadi perantara untuk mencari pasir dari wilayah Martapura ke Baturaja. Setiap kali ada yang mencari pasir di wilayah Baturaja akan menghubunginya untuk mencarikan pasir dan diantar ke Baturaja.

“Pasir itu untuk nimbun diwilayah Baturaja. Daerah Bakung Baturaja saya yang nimbunnya. Awalnya saya hanya jadi perantara saja. Namun lama kelamaan akhirnya saya mendekati sopir mobil dan menjual sendiri pasir tersebut. ‘jadilah untuk uang tambahan selain nukang,” katanya.

Menurut Kholid, uang hasil bertukang dan menjual pasir tidak untuk dinikmatinya sendiri. Sebagai anak tertua ia harus bertanggungjawab terhadap pendidikan adik-adiknya dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka.

“Itu yang menyebabkan saya agak terlambat menikah. Saya harus menyisihkan uang untuk pendidikan adik-adik saya,” terangnya.

Kholid mengaku tidak bisa memastikan berapa pendapatannya setiap bulan selama menjadi pegawai, tukang kayu dan penjual pasir. Hal itu disebabkan karena untuk pegawai dirinya mendapatkan gaji bulanan, sedangkan untuk hasil pertukangan dirinya akan diberi uang setiapo kali ada pesanan pertukangan.

“Demikian juga dengan penjualan pasir. Saya mendapatkan uang setiap kali ada penjualan. Dan uangnya juga langsung saya gunakan untuk membantu pendidikan adik-adik saya,” katanya.

Dilarang Masuk Sekolah Umum

Kehidupan keluarganya yang sangat mengutamakan pengetahuan agama membuat dirinya sempat mendapat larangan dari orangtuanya untuk meneruskan sekolah umum di Kabupaten Kebumen. Orangtua Kholid justru menyarankan dirinya masuk PPGA yang saat ini menempuh pendidikan selama enam tahun untuk menjadi guru.

Namun Kholid yang bersikeras untuk masuk dalam sekolah umum karena sudah didaftarkan oleh gurunya hingga akhirnya dia diizinkan dengan catatan harus tinggal di Pondok Pesantren untuk memeprdalam pengetahuan agama.

“Saya dulu pintar. Jadi langsung didaftarkan oleh guru SMP ke SMA 1. Setelah saya diterima di SMA 1 baru guru SMP saya pamit dengan orangtua saya. Namun orangtua saya menentang dan mengharuskan saya sekolah PGA. Saya tidak mau PGA. Namun setelah berdikusi akhirnya diperbolehkan masuk SMA namun harus tinggal di pondok. Ternyata ilmu agama sangat menunjang dalam pemerintahan,” katanya.

Ingin Jadi Pelatih Diklat

Kholid yang sebelumnya hanya Pegawai biasa di Kantor PMD hanya bercita-cita menjadi guru pembimbing atau pelatih pemberdayaan masyarakat. Alasannya cukup sederhana. Jika menjadi guru pelatih, dirinya akan mendapatkan gaji pegawia dan akan mendapatkan honor sebagai pelatih.

“Kalau menjadi pelatih pelatihan dan pendidikan (Diklat) itu gaji tetap utuh dan honor pengajar juga dapat dalam Diklat. Namun setelah saya pindah ke Madang Suku I sering mengisi pengajian-pengajian dan mewakili camat dalam berbagai kegiatan,” katanya.

Kholid yang memang sudah dibekali ilmu agama baik dari pendidikan maupun dari keluarganya kemudian kerap berkumpul dengan sejumlah kyai dan ulama hingga kemudian dirinya pindah ke Desa Sukaraja dan dipercaya untuk mengurus pondok pesantren disana.

“Karena saya dekat dengan pemerintah dan dekat dengan ulama, maka akhirnya saya dijadikan sebagai penghubung antara ulama dengan pemerintahan. Karena ponpes di sukaraja yang saya kelola sulit untuk mendapatkan guru lulusan tarbiyah, akhirnya saya membuka perguruan tinggi STIT dengan tujuan agar lulusannya dapat memenuhi kebutuhan ponpes. Namun ternyata terus berkembang dan banyak ponpes-ponpes lain yang gurunya masuk ke STIT itu hingga saat ini berkembang menjadi perguruan tinggi,” katanya.