Didepan Alex Noerdin Dengan Tegas Bupati OKUT Menolak Kebijakan Impor Beras

Sejumlah petani di Kecamatan Buay Madang, Kabupaten OKU Timur saat melakukan pemanenan beras organik.

KABAROKUTIMUR.COM | OKUTIMUR – Bupati OKU Timur HM Kholid MD dengan tegas menyampaikan penolakannya terhadap kebijakan pemerintah pusat yang melakukan impor beras untuk kebutuhan pangan Indonesia. Hal itu disampaikan Kholid mengingat kabupaten OKU Timur merupakan salah satu daerah penghasil beras terbesar di Sumsel yang dinilai mampu untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat.

Penolakan impor beras tersebut disampaikan Kholid dihadapan Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin SH saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahn (HUT) OKU Timur ke-14 Rabu (17/1/2018) lalu.

Menurut Kholid, Kabupaten OKU Timur dengan mayoritas masyarakatnya merupakan petani lahan sawah baik irigasi tekhnis maupun tadah hujan selama ini sudah menghasilkan beras lebih dari cukup bahkan sudah mengirimkan beras ke sejumlah daerah seperti Lampung, Jambi dan Bengkulu dan daerah lain.

Bahkan kata dia, keberhasil OKU Timur dalam menjaga hasil pangan dibuktikan dengan diraihnya pin emas juara 1 tingkat nasional dalam peningkatan upsus hasil pertanian padi, jagung dan kedelai. Selain itu, pengharagaan berupa Adi Bhakti Tani juga telah diterima OKU Timur karena telah mampu memproduksi gabah kering giling diatas satu juta ton atau setara dengan 500 ribu ton beras.

“Dengan produksi beras kita yang melimpah, maka secara tegas saya katakan OKU Timur menolak dilakukan impor beras,” tegas Kholid.

Sementara Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin mengatakan bahwa untuk wilayah Sumsel terutama OKU Timur kebutuhan pangan sudah mencukupi bahkan melebihi kebutuhan sehingga setiap tahun Sumsel selalu mengirimkan beras ke luar daerah seperti Lampung, Bengkulu, Jambi Bangka Belitung bahkan hingga ke Jakarta untuk memenuhi kebutuhan daerah lain.

Kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah pusat kata dia, bukan diperuntukkan bagi masyarakat Sumsel. Melainkan untuk masyarakat di sejumlah daerah yang masih mengalami kekurangan.

“Penyebabnya beragam. Mulai dari kegagalan panen hingga hal lain yang menyebabkan kebutuhan pangan tidak mencukupi. Jadi impor beras itu bukan untuk kita,” kata Alex.

Sumsel kata Alex, sejak beberapa tahun lalu selalu mendapatkan surplus beras bahkan kedepan kita merencanakan untuk menggarap 100 ribu Hektare (Ha) lahan lebak yang bisa meningkatkan surplus beras hingga 8.9 Juta Ton Beras per Tahun.