Pertanyakan Perkembangan Kasus Penggelapan Mobil, Mahasiswa Gruduk Mapolres OKU Timur

loading...

KABAROKUTIMUR.COM | OKU TIMUR – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Barisan Mahasiswa dan Pemuda Peduli Hukum (BADIK) Kabupaten OKU Timur mengeluarkan pernyataan sikap yang di tujukan ke Kepolisian Resort OKU Timur. Hal ini merupakan bentuk aksi ketidakpuasan mereka terhadap kinerja polisi dalam mengungkap kasus penggelapan mobil yang dilakukan oleh Arika Sari warga Cidawang Martapura, OKU Timur.

Menurut Joni selaku juru bicara mahasiswa, sampai saat ini sudah puluhan warga yang menjadi korban penggelapan mobil yang menggunakan modus rental tersebut.

“Kami mempertanyakan kenapa kok terkesan lamban tindakan dari pihak penegak hukum Polres OKU Timur. Saat ini belum ada upaya kongkrit untuk menuntaskan kasus tersebut,” katanya kepada wartawan di Polres OKU Timur, Kamis (1/3/2018).

Selain itu lanjut Joni, melihat akan hal tersebut mereka dari Barisan Mahasiswa dan Pemuda Peduli Hukum meminta agar kepolisian segera menangkap dan memproses terduga mafia penggelapan dan penadah kendaraan masyarakat OKU Timur. Mengecam keras segala tindak kejahatan di OKU Timur serta meminta masyarakat, pemuda dan mahasiswa agar tetap tenang, kondusif dan mengawal penuntasan kasus ini sampai selesai. Pihaknya juga minta kepolisian secepatnya mengusut dan menuntaskan kasus ini.

“Jika dalam waktu 7×24 jam tidak ada gerakan yang konkrit terhadap kasus ini maka mahasiswa akan melakukan aksi besar-besaran ke Polres OKU Timur dibantu mahasiswa se-OKU raya. Kami akan menuntut agar pihak kepolisian segara tangkap tersangka karena sudah banyak korban yang tertipu,” lanjutnya.

Sementara itu, Kapolres OKU Timur AKBP Irsan Sinuhaji melalui Kasat Intel Iptu Roy menjelaskan bahwa kasus ini sudah ditangani dan masih dalam proses. Untuk pelaku pihaknya berjanji akan melakukan penangkapan secepatnya.

“Terima kasih kepada mahasiswa yang peduli dengan kinerja kami, tentunya kami juga butuh waktu untuk mengungkap masalah ini, yakinlah kami akan segera proses masalah ini,” pungkasnya.

Untuk informasi, Arika Sari diduga melakukan penggelapan puluhan mobil warga dengan modus merental dengan alasan mobil tersebut untuk keperluan monitoring atau penelitian desa. Biaya rental yang ditawarkan bervariasi mulai dari Rp 5,5 juta per bulan. Warga yang berminat lalu menyerahkan mobilnya kepada Arika Sari. Kemudian oleh pelaku, mobil tersebut tidak digunakan untuk monitoring melainkan digadaikan atau dijual dengan harga Rp 30 juta sampai Rp 35 juta per unit.