Memasuki Musim Tanam Kedua, Harga Gabah Naik Tetapi Harga Beras Turun

loading...

KABAROKUTIMUR.COM | OKU TIMUR – Memasuki masa tanam tahap kedua tahun 2018, harga Gabah Kering Giling (GKG) di Kabupaten OKU Timur mengalami kenaikan. Kenaikan harga GKG karena stok yang mulai menurun dan masyarakat yang sudah mulai melakukan penggarapan lahan serta petani langsung melakukan penggilingan usai melakukan panen.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan harga beras terus Mengalami penurunan dalam kurun waktu beberapa minggu terakhir menyusul musim panen yang terus bergulir. Penurunan harga beras tersebut dipicu oleh tingginya stok ditingkat petani yang langsung melakukan penggilingan setelah masa panen.

“Dalam beberapa minggu terakhir harga beras terus mengalami penurunan. Beberapa bulan sebelumnya harga beras mencapai Rp. 8.500 per kilogram. Namun saat ini harga beras Mengalami penurunan menjadi Rp. 7.700 hingga Rp. 8. 000 per kilogram. Harga tersebut kemungkinan akan terus Mengalami penurunan hingga beberapa minggu terakhir,” kata Wagiran, salah satu petani di kecamatan Madangsuku II saat dikonfirmasi, Minggu (8/4/2018).

Kemudian lanjut Wagiran, penurunan harga beras tersebut disebabkan karena stok yang melimpah di tingkat petani maupun tingkat pabrik. Berbeda dengan gabah yang stoknya mengalami penurunan karena petani tidak menyimpan gabah karena khawatir akan mengalami kerusakan selain karena lembab yang dapat menyebabkan berjamur karena cuaca ekstrim.

“Biasanya usai petani langsung menjemur dan langsung membawa ke pabrik untuk digiling. Bahkan sebagian petani ada yang langsung menggiling dan mengambil setelah menjadi beras. Ada juga yang langsung menitip ke pabrik atau menjual ke pabrik sehingga stok beras melimpah dan otomatis harga Mengalami penurunan,” lanjutnya.

Selain itu, walau harga gabah kata dia mengalami kenaikan menjadi Rp. 3.700 hingga Rp. 3.800 per kilogram yang sebelumnya hanya Rp. 3.500 sampai Rp. 3.600 per kilogram. Pembeli gabah kata dia, mulai berani membeli dengan harga tinggi karena stok yang mulai menurun. Berbeda dengan beras yang melimpah sehingga menyebabkan penurunan harga di tingkat pabrik.

“Walau harga beras mengalami penurunan di tingkat petani maupun tingkat pabrik dipasaran harga beras masih terbilang tinggi yakni Rp. 8.500 hingga Rp. 9.000 per kilogram sesuai dengan kualitas beras. Harga beras bahkan mencapai hingga Rp. 11 Ribu per kilogram untuk kualitas super,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Dwi petani lainnya di Kecamatan Semendawai Timur mengungkapkan penurunan harga beras tersebut sudah terjadi sejak beberapa minggu terakhir yang disebabkan oleh banyaknya stok di tingkat petani maupun pabrik yang disebabkan masa panen petani yang terus bergulir.

“Saat ini petani sudah mulai melakukan penggarapan lahan untuk melakukan penanaman kembali. Petani akan menjual beras maupun gabah hasil pertanian yang hasil penjualannya akan digunakan sebagai modal untuk masa tanam berikutnya. Stok di tingkat pengepul maupun pasar meningkat dan menyebabkan penurunan harga,” katanya.

Dalam beberapa bulan terakhir lanjut Dwi kemungkinan harga beras akan kembali naik atau menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri harga beras diperkirakan akan mengalami kenaikan. “Karena stok yang mulai habis di tingkat petani maupun pabrik mengingat pada saat itu petani belum melakukan musim panen dan masih melakukan musim tanam,” pungkasnya.