Meminimalisir Angka KDRT, Berikut Ini Upaya yang Dilakukan Dinas PPPA OKU Timur…

KABAROKUTIMUR.COM | OKU TIMUR –  Untuk meminimalisir tingkat kekerasan dalam rumah tangga Pemerintah Kabupaten OKU Timur melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) OKU Timur menggelar acara sosialisasi sistem pencatatan dan pelaporan KDRT dan konvensi anak. Peserta kegiatan sosialisasi tersebut dari P2TP2A Kabupaten, P2TP2A Kecamatan, Forum PUSPA, PATBM dengan narasumber sosialisasi dari Women Crisis Center (WCC) Yeni Roslaini Izi. Sosialisasi ini dilaksanakan di Aula Bina Praja I Setda OKU Timur, pada Selasa (23/10/2018).

Menurut Bupati OKU Timur HM Kholid Mawardi SSos MSi saat membuka acara sosialisasi mengatakan, dengan semakin majunya teknologi justru semakin marak pula kasus-kasus yang timbul. Dimana terjadi ketidak seimbangan antara harapan dengan kenyataan di dalam kehidupan rumah tangga. Hal ini dapat diartikan sebagai suatu penyimpangan dalam keluarga, yang faktor paling dominan adalah masalah ekonomi.

“Kasus KDRT secara diam-diam terus saja muncul dan terjadi dimana-mana, bahkan dapat terjadi pada seorang perempuan yang dari luar tampaknya bahagia, namun ketika ditelusuri ternyata ia perempuan yang tidak bahagia karena mengalami KDRT yang dilakukan suaminya sendiri,” katanya.

Sementara, Kepala Dinas PPPA OKU Timur Dra Hj Yuniati, MM seusai kegiatan sosialisasi mengatakan, tujuan sosialisasi ini untuk meminimalisir tingkat kekerasan dalam rumah tangga. Meskipun kegiatan ini sering dilakukan namun dirinya berharap bahwa kegiatan ini akan dapat menambah ilmu dan wawasan bagi peserta, terutama bagi kader P2TP2A dari kecamatan. Selain itu, kita semua dapat belajar serta memahami cara penanganan kasus KDRT yang paling tepat.

“Harapan saya melalui kegiatan ini mudah mudahan angka kasus KDRT terus menurun, dan setiap individu dalam rumah tangga lebih saling memahami, menghormati dan bahagia,” harapnya.

Sedangkan Yeni Roslaini Izi, narasumber dari Woman Crisis Center (WCC), mengatakan bahwa kekerasan tidak hanya berupa fisik saja, akan tetapi juga kekerasan psikologis dan seksual yang dapat terjadi secara terus-menerus. Lalu, ancaman dengan senjata dan kematian adalah risiko terbesar yang dapat muncul jika KDRT tidak dihentikan.

“Kegiatan ini bertujuan sebagai salah satu alat pembantu dan evaluasi pelaksanaan pembangunan perlindungan perempuan dan anak, khususnya upaya menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak di semua wilayah khususnya OKU Timur,” pungkasnya.