Ini Dia Hukum Makan Makanan di Tempat Ta’ziyah

KABAROKUTIMUR.COM – Melakukan Ta’ziyah dan melaksanakan yasinan seperti tiga, tujuh, 40, hingga 1000 setelah seseorang meninggal dunia terus menjadi kontroversi dikalangan masyarakat. Demikian juga dengan menyantap makanan dirumah ahli musibah yang banyak dipertentangkan dengan alasan ahli musibah sedang berduka.

Berikut beberapa penjelasan yang diulas dari berbagai sumber semoga bisa menjadi penjelasan dan membuat kita tidak hanya melaksanakan sesuatu yang dalilnya tidak kita ketahui.

APAKAH memberikan makanan kepada orang yang berta’ziyah, atau kepada mereka yang mengikuti upacara pemakaman janazah, ada dilakukan pada masa Rasulullah saw.?

Jawaban atas pertanyaan tersebut berdasarkan Hadits Nabi Muhammad SAW.: yang artinya: “Dari Abdullah bin Amr ra. “Ada seorang laki-laki bertanya pada Nabi Muhammad saw. “Perbuatan apakah yang paling baik?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberi makannan dan mengucapkan salam, baik kepada orang yang engkau kenal atau tidak” (Shahih Bukhari, 11)

Ada pula Hadits yang dijadikan dasar kebolehan tersebut: “Diriwayatkan oleh ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari salah seorang sahabat Anshar, ia berkata, “Saya pernah bersama Rasulullah saw. dan disaat itu saya melihat beliau menasihati penggali kubur seraya bersabda, “Luaskan bagian kaki dan kepalanya”. Setelah Rasulullah saw. pulang, beliau diundang oleh seorang perempuan.

Rasulullah saw. memenuhi undangannya, dan saya ikut bersama beliau. Ketika beliau datang, lalu makananpun dihidangkan. Rasulullah saw. mulai makan lalu diikuti oleh para undangan. Pada saat beliau akan mengunyah makanan tersebut, beliau bersabda, “Aku merasa
daging kambing ini diambil dengan tanpa izin pemiliknya. Kemudian perempuan tersebut bergegas menemui Rasulullah saw. sembari berkata, “Wahai Rasulullah saw. saya sudah menyuruh orang pergi ke Baqi’, (suatu tempat penjualan kambing), untuk membeli kambing, namun tidak mendapatkannya. Kemudian saya menyuruhnya menemui tetangga saya yang telah membeli kambing, agar kambing itu dijual kepada saya dengan harga yang umum, akan tetapi ia tidak ada. Maka saya menyuruh menemui isterinya dan iapun mengirim kambingnya pada saya. Rasulullah saw kemudian bersabda, “Berikan makanan ini pada para tawanan” (Sunan Abi Dawud, 2894).

Menurut Muhyiddin Abdusshomad dalam bukunya Tahlil dalam Perspektif Al-Quran dan As-sunnah hal. 70. bahwa Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Dalail Al-Nubuwwah, disebutkan oleh Syekh Al-Kirmani dalam Syarah Al-Hadits Al-Arbain, hal. 315, Syekh Ibrahim Al-Halabi dalam Munyah Al-Mushalli hal, 131, Syekh Abu Sa’id dalam Al-Bariqah Al-Muhammadiyyah, Juz 3 hal. 252,

Syekh Waliyuddin Muhammad Al_Tibrizi dalam Misykat Al-Mashabih hal. 544. Dalam Hadits riwayat Abu Dawud kata yang dipakai, sepintas memberi pemahaman bahwa yang mengundang Nabi Muhammad saw. itu bukan istri si mayit, tapi wanita lain, namun dalam kitab ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud yang dikutip dari kitab Al-Misykat. menggunakan lafaz dengan dimudhafkan kepada dhamir (kata ganti). Al-Qari berkata bahwa yang dimaksud adalah isteri orang yang meninggal tersebut. (Aunul Ma’bud, Juz 9 hal 129).

Begitu pula dalam kitab Dalail Al-Nubuwwah memberikan keterangan yang sama, sehingga dapat disimpulkan bahwa yang mengundang Rasulullah saw. untuk makan dirumahnya adalah istri dari orang yang telah meninggal dimana Rasulullah saw. turut serta dalam mengantar ke kuburan. (Bulugh Al-Umniyah hal. 219)

Dari Hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Nabi Muhammad saw. diundang oleh keluarga mayit, yaitu isteri orang yang telah meninggal itu.Nabi Muhammad saw. dan para sahabat berkumpul di rumah duka sesudah jenazah dikuburkan dan mereka memakan makanan yang disediakan oleh kelurga mayit. Hanya saja karena cara membeli kambing tersebut bermasalah, yaitu dibeli dari tetangga yang pada saat pembeliannya, suami dari perempuan yang menjual kambing tersebut sedang tidak dirumah, padahal transaksi penjualan kambing (Bukan kambing untuk jualan, melainkan untuk dipotong) tersebut harus dengan persetujuan suaminya. Rasulullah saw. tidak mau memakan gulai kambing yang tidak mendapat izin dari suami wanita yang menjual kambing itu, lalu beliau menyuruh memberikannya kepada para tawanan.

Memang pada kesempatan dan kondisi yang berbeda, ketika seorang sahabat yang miskin meninggal dunia, Rasulullah saw. memerintahkan kepada keluarganya, supaya menyediakan makanan buat keluarga Ja’far yang ditimpa musibah berdasarkan Hadits dari Abdullah bin Ja’far ra.: “Dari Abdullah bin Ja’far ra. Ia berkata, “Ketika datang kabar meninggalnya ayahku, Rasulullah saw. berkata pada keluarganya,”Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, lalu kirimkan kepada mereka.Telah datang kepada mereka sesuatu yang membuat mereka melupakan makanan”. (Sunan Abi Dawud, 2725).

Sudah menjadi tradisi pula dikalangan ummat Islam,mengadakan tahlilan dan menyediakan jamuan makanan dalam upacara “tujuh hari” apakah tidak menyimpang dari tuntunan agama Islam? Asal usul “tujuh hari” tersebut adalah mengikuti amal yang dicontohkan sahabat Nabi Muhammad saw.

Imam Ahmad bin Hambal ra. Menyatakan dalam kitab Al-Zuhd, yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawi yang artinya “Hasyim bin Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, “Al-Asyja’i meriwayatkan kepada kami dari Sufyan,ia berkata, “Imam Thawus berkata, “Orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para sahabat mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu” (Al-Hawi li Al-Fatawi, Juz II, hal,178) Dalam permasalahan tersebut, Imam Al-Suyuthi menjelaskan: “Kebiasaan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriyah) di Makkah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi Muhammad saw. sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat Rasulullah saw.) “(Al-Hawi li Al-Fatawi, Juz II, hal. 194).

Mengenai, mendo’akan, menghadiahkan pahala bacaan dan sodaqoh dalam hari ke 3, 7, 25, 40 , 100, dan 1 tahun serta 1000 apa ada dalilnya.

TAHLILAN HARI KE 3, 7, 25, 40, SETAHUN & 1000, BUKAN BID’AH, DIPRAKTEKKAN OLEH UMAR DAN ULAMA SALAF
Inilah Dalil tahlilan Jumlah Hari 3, 7, 25, 40, 100, (setahun) & 1000 hari dari kitab Ahlusunnah Wal Jama’ah (bukan kitab dari agama hindu sebagaimana tuduhan fitnah kaum WAHABI) yang artinya, “Rasulullah saw bersabda: “Doa dan shodaqoh itu hadiah kepada mayyit.”

Berkata Umar: “Shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.” (Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198).

Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya, bukan menurut budaya Hindu dan sejak kapan Hindu ada Tahlilan. Berkumpul mengirim doa adalah bentuk shodaqoh buat mayyit.

Artinya: “Ketika Umar sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan – hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib: Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang – orang pun mengulurkan tangannya masing – masing dan makan.” [Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110].

Kemudian dalam kitab Imam As Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi: Imam Thawus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.” Artinya: “Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari.”

Dalam tafsir Ibn Katsir (Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 surah an Najm (IV/236: Darel Quthb), beliau mengatakan Imam Syafi’i berkata bahwa tidak sampai pahala itu, tapi di akhir2 nya beliau berkomentar lagi; bacaan alquran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai, Menurut Imam Syafi’i pada waktu beliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik dan Imam Hanafi, bahwa bacaan al-Quran tidak sampai ke mayit, Setelah beliau pindah ke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan alquran yang dihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa “Allahumma awshil..dst.”, lalu murid beliau Immeam Ahmad dan kumpulan murid2 Imam Syafi’i yang lain berfatwa bahwa bacaan alquran sampai.

Pandangan Hanabilah, Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibnu Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan yang artinya: “Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”. (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315).

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada mayit yang artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an / kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”. (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322).

Al-Imam Abu Zakaria Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan; “Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan, “Sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengha tamkan al-Qur’an”.