Kapolda Sumsel Perintahkan Penyidik Selidiki Temuan 6 Ribu Ton Beras Rusak di Gudang Bulog OKU Timur

KABAROKUTIMUR.COM, SUMSEL – Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara, tidak menampik adanya temuan 6000 ton beras busuk di Gudang Bulog, Kabupaten Oku Timur (OKUT).

Hingga saat ini pihak Polda masih meyelidiki kebenaranya.

Diungkapkan Kapolda, jika dirinya memang sudah mendapatkan informasi adanya temuan tersebut.

Akan tetapi untuk memastikan apakah ada dugaan tindak pidanannya, itu masih dilakukan pengecekan dan penyelidikan.

“Karena lokasi gudang beras tersebut berada di OKU Timur, maka saya sudah perintahkan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumsel bersama Polres OKU Timur untuk berkoordinasi dan melakukan pengecekan di gudang itu,” ujar Jenderal bintang dua tersebut, Sabtu (9/10/2019).

Sejauh ini, dirinya sudah memerintahkan jajarannya untuk memastikan apakah beras tersebut merupakan beras sejahtera (rastra) ataukah beras pengadaan rutin.

“Kami belum tahu persis, makanya kami melakukan pengecekan dan penyelidikan lebih dulu untuk mengetahui kebenarannya,” ungkapnya.

Terkait beras tersebut, pihak kepolisian masih menunggu hasil penyidikan apakah ada pelanggaran hukum. Sehingga, jika nantinya ditemukan bukti tindakan pidana tentu akan diproses.

“Dalam penyelidikan kami kan tidak boleh mengada-ada.

Dari itu kita cek dulu dan selidiki. Nanti kalau memang ditemukan adanya pelanggaran hukum, kita tegakkan hukum. Tapi kalau itu hanya bersifat pelanggaran admistratif maka itu ranahnya Bulog,” jelasnya.

Kapolda juga memastikan jika ketersedian beras untuk wilayah Sumsel saat ini aman dan tidak ada masalah.

“Ketersediaan beras di Sumsel saat ini aman, tidak ada masalah. Apalagi saat ini kan musim panen padi, bahkan belum lama ini saya ikut memonitor panen padi di Banyuasin, di sana para petani bahagia dan senang. Untuk itu, sampai saat ini ketersediaan beras di Sumsel tidak ada masalah,” ujarnya.

Direktur Pengadaan Bulog Angkat Bicara

Perusahaan Umum (Perum) Badan Logistik Divisi Regional Sumatera Selatan dan Bangka Belitung memastikan bahwa tak semua beras yang tersimpan di Gudang Bulog Ogan Komering Ulu (OKU) Timur dalam kondisi turun mutu.

Hal tersebut diutarakan, Direktur Pengadaan Bulog, Bakhtiar, Sabtu (9/2/2019) saat berada di Gudang Bulog Karya Baru, Jalan Kol H Burlian KM 9 Palembang.

“Jumlah berasnya itu 6.800 ton, tapi tidak semuanya bisa dikatakan rusak. Untuk pengadaan tahun 2017-2018 saya rasa tidak ada persoalan.

Sementara, untuk di OKUT beras sudah 2 tahun lebih pasti turun mutu. Kita sekarang sedang klasifikasikan, mana yang masih kondisi bagus sekali yang artinya masih bisa digunakan, mana yang untuk pakan ternak dan yang tidak bisa digunakan sama sekali,” jelasnya.

Bakhtiar pun menegaskan jika pihak Bulog tidak akan mungkin menyebarkannya ke masyarakat.

Malah, untuk beras yang turun mutu atau dalam kondisi tidak laik maka akan langsung dilakukan pemusnahan.

“Yang paham apakah beras itu turun mutu atau tidak laik kan kami. Mana mungkinlah beras kondisi jelek kami kasih ke masyarakat,” tegasnya.

Dijelaskannya, untuk pelepasan stok karena kondisinya turun mutunya harus rapat direksi, kewenangan semua ada di Bulog pusat dan ini sudah dibicarakan.

“Semua ada tahapannya, saat proses penyerapan beras dari petani kualitas pembelian harus sesuai prosedur dan standar termasuk cek kadar air dan lainnya,” tambah Bakhtiar.

Untuk menjelaskan hal tersebut, Bahktiar bahkan menunjukkannya langsung kondisi beras yang ada di Gudang Bulog Karya Baru. Di momen tersebut, ia menjelaskan seperti apa prosedur penyimpanan beras.

Diberitakan sebelumnya, ribuan Ton beras tidak layak konsumsi dibiarkan begitu saja di Gudang Bulog OKU yang ada di Kabupaten OKU Timur.

Sedikitnya 6.000 Ton beras Bulog yang semestinya disalurkan kepada masyarakat miskin terpendam dan membusuk di gudang Bulog tersebut.

Beras Bulog yang dibeli menggunakan uang negara beberapa tahun lalu tersebut saat ini dibiarkan menumpuk dengan kualitas yang sudah menurun dan tidak layak lagi untuk dikonsumsi.

Kepala Cabang Bulog Divre III OKU Deni Laksana Putra menjelaskan bahwa 6000 ton beras yang saat ini ada di beberapa gudang di OKU Timur sudah ada sejak pertamakali dirinya menjabat sebagai kepala Bulog.

Ribuan ton beras tersebut berdasarkan instruksi pusat agar tidak didistribusikan karena mengalami penurunan mutu dan tidak layak untuk disalurkan.

Bahkan Deni mengaku keberadaan beras tersebut sangat menganggu karena dinilai dapat mempengaruhi kondisi beras lain yang ada di gudang tersebut.

Bahkan dirinya berjanji kedepan akan memperbaiki sistim kerjasama pengadaan beras Bulog dengan cara bekerjasama langsung dengan petani dengan HPP sebesar Rp. 7.300 Per kilogram.

“Kriteria pengadaan beras harus sesuai SOP dengan kadar air sebesar 14 persen, broken sebesar 20 persen, dan menir sebesar 2 persen. Terlebih dahulu nanti akan dianalisa oleh petugas pemeriksa kualitas,” katanya.

Sedangkan untuk pengadaan tahun 2019 kata dia, belum dilaksanakan pengadaan dan terlebih dahulu akan memanggil mitra kerja untuk mengetahui apa yang diinginkan mitra kerja.

Sedangkan beras yang saat ini membusuk di gudang menurut juru timbang gudang yang ada di Desa Karangsari, Kecamatan Belitang III Jon Markoni, beras yang ada di gudang tersebut merupakan pengadaan pada tahun 2015, 2017 dan 2018.

Terkait temuan 6.000 ton beras turun mutu (rusak) disejumlah gudang Bulog yang tersebar di Kabupaten OKU Timur berbuntut pada pemanggilan Kepala Bulog Sub Divre OKU oleh DPRD OKU Jumat (8/2/2018).

Kepala Bulog diterima oleh Ketua Komisi I DPRD OKU Yopi Syahrudin SE, Ir H Saifudin, Medi Idris, dan , Ir H Marjito.

Yopi  menjelaskan pemanggilan Kepala Bulog OKU ini untuk minta penjelasan seputar bersan turun mutu yang tersimpang disejumlah gudang.

Kepala Bulog Sub Divre Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Deni Laksana Putra didampingi Kasi Humas Dimas dihadapan anggota dewan menjelaskan,  menumpuknya beras tahun 2015 didalam gudang tersebut karena perubahan kebijakan pemerintah pusat  Dikatakan Deni, pada tahun itu peredaran beras tidak seimbang dengan  penyerapan.

“Pada tahun itu penyerapan  gabah banyak namun  pagu dikurangi,  tahun 2015 kita menyerap 18 juta ton,” kata Kepala Bulog seraya menambahkan setelah bulog menlakukan penyerapan lalu keluar  perubahan kebijakan pemerintah pusat sehingga lajur beras di OKU Raya tidak seimbang.

Saat ditanya oleh Ketua Komisi I DPRD OKU terkait standar pembelian dan pengadaan raskin di Bulog OKU, Deni menjelaskan, bahwa  beras medium atau  raskin ketahanannya hanya 4 bulan saja, setelah itu beras akan turun mutu.

Disisi lain, sesuai dengan SOP layak tidaknya beras untuk raskin harus memenuhi 4 unsur, pertama kadar airnya hanya 14%, kedua broken atau hancur 20%, menir 2%. Beras tersebut akan diperiksa dan direkomendasikan oleh tim Pemeriksa  Kualitas.

Menurut Deni, selain beras juga ditemukan  250 ton gula pasir yang sudah kadaluarsa digudang.

Dikesempatan itu  Deni juga menjelaskan, gudang milik bulog tidak standar untuk menyimpan gula, namun pemerintah pusat tetap mengirimkan gula tersebut untuk dikomersilkan.

“2017 lalu kita dikirim gula dari PTPN 10 sebanyak 250 ton untuk dijual, karena saat itu harga gula dipasaran lebih murah dari gula milik bulog.

Akibatnya  gula tersebut tidak laku dan menumpuk digudang. Namun pihak Bulog OKU  sudah mengajukan untuk ditarik lagi oleh pemerintah pusat. Sedangkan beras yang turun mutu solusinya akan dilelang untuk pakan ternak.

Menanggapi keterangan Kepala Bulog OKU, Yopi mengatakan buntut dari turun mutunya beras sebanyak 6000 ton dikalikan Rp 7.300 (HPP)  harga beli bulog maka  akan keluar nominal sebesar Rp 48 milyar lebih.

“Itu uang yang sangat banyak, disisi lain  masih banyak rakyat  warga yang memang belum mampu yang harus dibantu walau hanya dengan beras,” kata Yopi.

Ketua Komisi I DPRD OKU menuding Bulog sudah zolimdengan membiarkan beras membusuk digudang sampai ribuan ton disisi lain banyak rakyat kelaparan.

Sementara itu merebaknya masalah beras turun mutu sebanyak 6000 ton yang tersimpan di gudang Bulog di sejumlah gudang bulog di OKU Timur ini setelah tim Serapan Gabah (Sergab) TNI AD sidak di beberapa waktu lalu, anggota DPRD Ogan Komering Ulu (OKU) lintas komisi mendatangi Gudang Bulog Sub Divisi Regional (Divre) OKU yang terletak di Terukis Rahayu, Martapura, OKU 4 hari lalu.

Saat masuk ke dalam gudang penyimpanan beras, anggota DPRD OKU kaget bukan kepalang melihat kondisi beras.

“Masya Allah, zolim Bulog ini. Masih banyak masyarakat yang kurang mampu di OKU Raya ini. Sedangkan Bulog membiarkan beras ini membusuk saja di gudang, zolim ini,” tandas anggota Komisi I DPRD OKU.

Di dalam gudang tersebut terdapat ribuan ton tumpukan karung beras yang telah usang berdebu dan mengeluarkan aroma busuk yang menyengat, bahkan terdapat banyak ribuan kutu beras yang berterbangan hingga menutupi karung beras.

Tampak diantara tumpukan karung beras tersebut tertulis beras turun mutu.

Sementara itu, salah seroang kepala Gudang I Bulog Terukis Rahayu, mengatakan, di gudang Bulog Terukis Rahayu ada 3.000 ton beras tahun 2015 dan 200 ton gula tahun 2018.

Beras ini sendiri waktu pembeliannya dengan mitra bulog FH dan BR seharga seharga Rp, 8000.

“Lebih jelasnya silahkan tanya dengan Kepala Bulog saja, saya hanya bertugas menjaga gudang,” katanya.

Mukhsin membenarkan adanya 6000 ton beras busuk, yang terletak di beberapa gudang milik Bulog. “Untuk disini hanya 3000 ton, sisanya ada di gudang Belitang dan gudang lainnya,” katanya.

Di gudang Martapura ini, bukan hanya 3000 ton beras saja tertimbun membusuk, anggota DPRD OKU juga menemukan 200 ton gula pasir yang sudah kadaluarsa.

Sumber: sripoku.com